Go to Solo

SOLO, Sharing Online Lan Offline

Blogroll

Search

Ke-Inggris-an

December 31st, 2009 by suryo

Semalam atau tepatnya tanggal 29 Desember 2009 pukul 20.30 bertempat di masjid Albarokah, JF2C kembali mengadakan rapat untuk yang kedua kalinya. Rapat ini dihadiri oleh tujuh orang yaitu Ischak Suryo Nugroho, Arifin, Anwar, Musyaffa, Beti, Dika dan Lena. Enam orang diantaranya selain Musyaffa adalah pendiri dari JF2C.

Rapat kedua ini adalah untuk merancang AD ART JF2C. untuk mempermudah dan mempercepat kinerja, kami langsung membahas masalah kegiatan yang  telah kita sepakati bersama ketika membentuk organisasi ini.  JF2C untuk sementara bergerakpada dua bidang yaitu BIMBEL dan Bisnis Perdagangan yang masing-masing dari bidang itu akan memiliki nama atau bisa dikatakan  cabang dari JF2C.

Untuk rapat kali ini kegiatan yang dibahas adalah BIMBEL/ Bimbingan  Belajar. Pada mulanya kami menjadi SD dan SLTP sebagai sasaran dari kegiatan BIMBEL ini tetapi berhubung kesibukan dari setiap komisaris JF2C, maka kami sepakati bahwa untuk langkah awal, BIMBEL hanya ditujukan kepada siswa SD.

Pada rapat kali ini aku banyak diam daripada mengeluarkan pendapat atau memberi komentar terhadap pendapat yang lain. Satu hal yang membuatku agak kurang “sreg” adalah pemilihan nama yang kami ambil untuk cabang dari JF2C dalam bidang BIMBEL. Ada yang menyarankan Rumah Pena, Glen (Group of Learners), Study For Fun, Gift, Bengkel Pena.  Akhirnya, nama yang digunakan adalah Glen. Perbedaan suaranya sangat tipis 4:3. Empat orang memilih Glen yang menurutku sangat berbau Inggris dan tidak jelas. Alasan mereka agar ini menarik  perhatian dan memiliki nilai jual/marketable, mudah di ingat, dan gaul. Jawabku dalam hati BULLSHITT. Kenapa begitu ? Bagaimana tidak Bullshitt, lha wong yang bisa bahasa Inggris dalam rapat ini paling dua orang. Itupun -dengan segenap jiwaku-, aku meyakini bahwa kemampuannyapun masih setengah-setengah.

The Points Is :
1.    kenapa sich kita selalu ke –Inggris-an padahal kita sendiri belum menguasai benar bahasa Inggris ?
Kalau kita belum menguasai bahasa Inggris tapi kita ingin bergaya Inggris, boleh saja tapi hanya sebatas penggunaan dengan teman atau lingkungan sekitar  dengan tujuan untuk belajar tanpa melibatkan sesuatu yang resmi.  Karena kalau sudah menyangkut lembaga/ perusahaan resmi yang menggunakan bahasa Inggris padahal pendiri/ orang-orang perusahaan tidak menguasai bahasa itu maka ini sama halnya dengan menutup-nutupi keburukan yang mana keburukan itu akan kita sebarkan. Na’udzu Billah Min Dzalik (Aku berlindung kepada Allah dari hal itu)

2.     Apakah kita tidak bangga terhadap bahasa kita sendiri ?
Jelas, dengan menggunakan bahasa Inggris (terbatas dalam hal ini) kita tidak bangga dengan bahasa dan bangsa kita sendiri. Kita telah menomorduakan bangsa dan bahasa kita di negara kita sendiri.

3.     Apakah yang berbau Inggris selalu marketable ?
Akan sangat memalukan sekali jika kita menggunakan bahasa Inggris ternyata kita jauh dari menguasai setengahnya saja dari bahasa itu. Marketable tidak harus memiliki nama yang ke-Inggris-an.  Asalkan nama itu bagus dan manajemen didalamnya berjalan dengan baik, insya Allah akan sukses.

Kenapa aku hanya diam saja ?Pertama, karena ini keputusan sebagian besar komisaris/pendiri JF2C. Kedua, selama tidak menyangkut prinsip dasarku,oke-oke ajalah. Apa tuch prinsip dasarku ? ada dech.
Rapat JF2C selanjutnya yaitu rapat yang ke III masih menyangkut tentang AD ART insya Allah akan dilanjutkan pada hari Minggu, 3 Januari 2009, bertempat di Masjid Agung Jawa Tengah.

Posted in Artikel | 4 Comments »



4 Responses to “Ke-Inggris-an”

  1.   adipati Says:

    apa lah sebuah nama; yang penting sih manejemen dan bagaimana mengembangkan karakter brandingnya mengena ke sasaran.

    nama sangat penting mas. Soalnya dengan nama aja kita sudah bisa membangun image orang. coba kalo namanya surti, bejo, ngatiyem. kan jadinya orang berpikir itu ndeso. Nama yang bagus diiringi dg manajemen akan lebih dahsyat

  2.   saifuna Says:

    qlo ke-nga-Rab-an gmn stad???

    klo ke-ngarab-an ga pasti dengan organisasi yg dibentuk. Kita perlu yang marketable. tapi kenapa selalu yg ke-inggris-an, kaya kita ga bangga aja jadi org Indonesia.

  3.   novi cuk lanang Says:

    benar, lbh baik ukur baju sendiri dulu krn ini awal pembentukan. jangan sampe krn nama yg dianggap market itu malah membuat nafas ngos-ngosan dimasa2 awal akibat terus2an menyangga image (baca=Gengsi)

    Saya msh ingat nama2 asing dlm bimbel spt phi-beta,teknos,ipiems,dll tapi usianya pendek, hanya jaya diawal. sbagiannya malah uda ga trdengar. mungkin mati

    Berbeda dg Nurul Fikri, dari dulu smpe skarang smkin bersinar. Mjd bsar krn konsistensi dlm mnjalankan roda dan profesional dlm brbagi jobdisk.

    Cukup geli, spt nama gank. bbrpa teman saya yg brmain musik punya julukan nama tsb. Ada tman, glen jg. seorang fotografer. Akhirnya nama glen identik dg free style. Padahal ini rencana brhubungan dg pendidikan. bisa2 orang tua pada takut hingga akhirnya memilih memasukan anaknya ke Nurul Fikri, Surya Cendekia, ataupun Pelita Imu utk belajar Pesona Matematika dan Sahabat Fisika..

    (wow, nama2 terakhir itu sangat lokal, lebih mengena di hati orang tua. Tentunya menjadi lebih BRAND/MARKETABLE.. )

    ane setuju nov sama ente. Tapi itulah demokrasi. siapa yang memiliki banyak suara dialah yang berkuasa.

  4.   dloen Says:

    pak, dloen pengen ketemu,,, banyak hal yang mo dloen ceritaiin,,,,

    dimanapun kamu berada, jika tidak bisa curhat dengan seseorang akan ada yang selalu mendengarkan curhat kamu. Doaku menyertaimu. Perjalanan kamu masih panjang. Tetap semangat !!!

Leave a Reply